Menu

Mode Gelap
5 Merek Make Up Lokal yang Wajib Kamu Coba The Most Influential People in the Green House Industry and Their Celebrity Dopplegangers Technology Awards: 6 Reasons Why They Don’t Work & What You Can Do About It

Cerita · 12 Mar 2026 08:23 WIB ·

Dua Raja, Satu Ayah, dan Pengikut yang Terlalu Bersemangat

Dua Raja, Satu Ayah, dan Pengikut yang Terlalu Bersemangat Perbesar

Di tanah Mandura, negeri yang pernah dipimpin oleh Prabu Basudewa, ada satu cerita yang jarang masuk kitab besar.

Ceritanya tentang dua saudara.

Yang satu bernama Baladewa.
Yang lain bernama Kresna.

Keduanya anak Basudewa. Baladewa adalah putra sulung dari Prabu Basudewa dan Dewi Rohini.

Mereka berdua sama-sama darah kerajaan. Sama-sama punya kemampuan memimpin. Sama-sama kalau pidato bisa bikin orang mengangguk-angguk, meskipun kadang yang mengangguk itu belum tentu paham.

Tapi seperti yang sering terjadi di istana, kemampuan bukan satu-satunya faktor penentu siapa yang akhirnya duduk di singgasana.

Baladewa adalah kakak. Tubuhnya besar, suaranya keras, langkahnya mantap. Tipe orang yang kalau masuk ruangan tidak perlu memperkenalkan diri, orang sudah otomatis menyingkir sedikit memberi jalan.

Ia disukai para pembesar kerajaan. Para penasihat tua, panglima perang, dan dedengkot istana merasa Baladewa adalah pilihan yang aman.

Stabil.
Tegas.
Dan yang paling penting, mudah dipahami.

Singkatnya, Baladewa adalah tipe raja yang membuat para elit istana bisa tidur nyenyak. Bahkan mungkin mendengkur.

Di sisi lain ada Kresna, adiknya.

Ia tidak terlalu suka keramaian istana. Ia lebih sering terlihat ngobrol dengan brahmana, bertanya kepada resi, atau berdiskusi dengan rakyat kecil di pasar.

Cara berpikirnya kadang terlalu tajam untuk ukuran para pembesar yang sudah lama nyaman dengan kalimat seperti, “sudah dari dulu juga begini.”

Bagi sebagian kalangan religius dan rakyat biasa, Kresna adalah harapan.

Bagi para dedengkot istana, Kresna adalah kemungkinan yang terlalu berisiko.
Terlalu banyak ide.
Terlalu banyak pertanyaan.
Dan yang paling mengkhawatirkan, terlalu sulit diprediksi.

Ketika Prabu Basudewa mulai uzur dan tahta Mandura harus ditentukan penerusnya, suasana istana berubah seperti ruang rapat yang terlalu lama tanpa kopi.

Bisik-bisik mulai beredar.

Pertemuan rahasia terjadi di banyak sudut keraton. Ada yang bertemu di pendopo, ada yang di taman, ada juga yang pura-pura “kebetulan lewat” tapi pembicaraannya berlangsung dua jam.

Dan pada akhirnya keputusan pun dibuat.

Baladewa naik tahta.

Pengumuman itu dibacakan dengan suara lantang di alun-alun. Para pembesar kerajaan bertepuk tangan paling keras. Beberapa bahkan tepuk tangan duluan sebelum kalimatnya selesai.

Rakyat menyimak dengan ekspresi campur aduk.
Sebagian senang.
Sebagian bingung.
Sebagian lagi hanya berpikir, “yang penting harga beras jangan naik.”

Tidak jauh dari situ, Kresna berdiri.

Ia tidak protes.
Tidak marah.
Tidak membuat konferensi pers.

Bahkan tidak mengucapkan satu kalimat pun tentang kecurangan yang oleh para pengikutnya sudah lama mereka curigai.

Yang ia lakukan justru sesuatu yang lebih aneh.

Ia memilih pergi.

Bersama para pengikutnya, Kresna membuka wilayah baru di pinggir negeri. Sebuah kerajaan kecil yang perlahan tumbuh.

Orang-orang bertanya-tanya, kerajaan baru itu akan dinamai apa.

Biasanya kalau bikin kerajaan baru, namanya dibuat keren. Minimal ada kata “jaya”, “agung”, atau “perkasa”.

Kresna malah menjawab santai, seperti orang yang sedang memilih nama warung kopi.

“Namanya tetap Mandura.”

Orang-orang bingung.

“Lho… kalau namanya sama, nanti kiriman paketnya nyasar bagaimana?”

Mengapa membuat kerajaan baru dengan nama yang sama?

Kresna hanya tersenyum.

“Mandura tidak pernah benar-benar terbelah,” katanya.
“Hari ini mungkin kita berjalan di jalan yang berbeda. Tapi suatu hari nanti, ketika para dedengkot yang memelihara perpecahan itu sudah lengser dari lingkar kekuasaan, Mandura akan kembali satu.”

Bagi Kresna, Baladewa bukan musuh.

Ia tetap kakaknya.

Masalahnya bukan pada Baladewa.

Masalahnya ada pada orang-orang di sekitar tahta yang lebih takut kehilangan pengaruh daripada kehilangan kebenaran.

Sayangnya, dunia jarang berjalan sesuai niat baik para pemimpinnya.

Para pendukung Baladewa mulai menyebut kerajaan Kresna sebagai pembangkangan.

Para pengikut Kresna mulai mengatakan tahta Mandura telah dicurangi oleh lingkaran elit istana.

Awalnya hanya kata-kata.

Lalu berubah menjadi tuduhan.
Lalu menjadi kebencian yang diwariskan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, biasanya sambil minum teh dan berkata, “kita ini sebenarnya saudara… tapi…”

Dan seperti semua cerita yang terlalu lama dipanaskan, akhirnya yang keluar bukan lagi perdebatan.

Melainkan perang.

Pasukan Mandura melawan pasukan Mandura.

Yang satu membawa panji Baladewa.
Yang satu membawa panji Kresna.

Padahal jika ditarik sampai ke ujung silsilah, keduanya masih memanggil nama ayah yang sama, Prabu Basudewa.

Baladewa di keraton sebenarnya tidak pernah memerintahkan perang itu.

Kresna di kerajaannya juga tidak pernah menginginkannya.

Tetapi para pengikut sudah terlanjur menikmati identitas baru mereka, menjadi pembela raja masing-masing.

Karena bagi sebagian orang, membela raja kadang terasa lebih mudah daripada membela akal sehat.

Dan di titik itu, perdamaian sering kali menjadi sesuatu yang terlalu sunyi.

Terlalu sepi.

Dan yang paling menyedihkan, terlalu sedikit orang yang mau memperjuangkannya

Artikel ini telah dibaca 2 kali

Avatar photo badge-check

Penulis