Menu

Mode Gelap

Keluarga · 30 Apr 2026 03:34 WIB ·

Mengapa Perempuan Sering Menjadi Korban?

Mengapa Perempuan Sering Menjadi Korban? Perbesar

Perasaan saya masih terbawa setelah menonton film “Pangku” di YouTube. Ada rasa sesak, sedih, sekaligus marah yang sulit dijelaskan. Film itu seperti membuka kembali kenyataan yang sebenarnya sering kita lihat di sekitar, tetapi kadang kita abaikan: betapa seringnya perempuan harus menanggung akibat dari pilihan atau bahkan kesalahan yang bukan sepenuhnya miliknya.

Di film itu, tokoh perempuannya memilih untuk tetap melahirkan anak yang dikandungnya, meski ditinggalkan tanpa tanggung jawab. Keputusan itu bukan keputusan yang mudah. Ia harus mengorbankan banyak hal: harga diri, kenyamanan hidup, bahkan mungkin masa depan yang dulu ia bayangkan. Semua dilakukan demi satu hal, bertahan hidup dan membesarkan anaknya.

Lalu hadir seorang laki-laki yang menawarkan harapan. Harapan akan kehidupan yang lebih layak, lebih aman, dan mungkin juga lebih bahagia. Namun, lagi-lagi harapan itu ternyata semu. Ia kembali hamil, dan sekali lagi harus menghadapi kenyataan pahit: ditinggalkan tanpa tanggung jawab. Yang tersisa hanyalah luka yang berlapis, yang mungkin tidak pernah benar-benar sembuh.

Miris rasanya melihat bagaimana perempuan sering kali berada di posisi yang serba salah. Apa pun pilihan yang diambil, tetap saja berisiko merugikan dirinya sendiri. Bertahan disalahkan, pergi pun tidak selalu menyelesaikan masalah.

Dan ini bukan hanya cerita dalam film.

Beberapa waktu terakhir, saya juga mendengar kisah nyata yang tak kalah menyayat hati. Seorang laki-laki yang selama ini dikenal memiliki citra baik di mata banyak orang, ternyata menyimpan sisi lain yang gelap. Ia menghamili seorang perempuan, lalu memintanya menggugurkan kandungan.

Saat perempuan itu mengalami sakit, baik secara fisik maupun batin, pasca tindakan tersebut, laki-laki itu justru menghilang tanpa tanggung jawab. Tidak bisa dihubungi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Lagi-lagi, perempuan yang harus menanggung semuanya sendirian.

Dalam situasi seperti ini, jujur saya sering berada di posisi yang dilematis. Ada keinginan untuk berkata, “Mengapa mau terjebak dalam situasi seperti itu?” Namun di sisi lain, saya sadar kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang seseorang hadapi ketika ia mengambil keputusan. Bisa jadi ada tekanan, manipulasi, rayuan yang meyakinkan, atau bahkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Tidak semua hal terlihat dari permukaan.

Karena itu, saya tidak ingin menghakimi. Tetapi sebagai sesama perempuan, izinkan saya menyampaikan beberapa pandangan, bukan sebagai nasihat yang menggurui, melainkan sebagai bahan renungan bersama.

Perempuan berhak menjaga dirinya dari hubungan yang sejak awal sudah terasa tidak pasti. Jangan mudah menerima hubungan yang tidak jelas arah dan tanggung jawabnya. Pernikahan, misalnya, seharusnya menjadi sesuatu yang dibangun di atas kejelasan, komitmen, dan tanggung jawab, bukan sekadar janji atau jalan pintas yang justru membuka celah ketidakadilan.

Jika niat seseorang benar, ia akan menempuh jalan yang benar pula, bukan sembunyi-sembunyi, bukan setengah-setengah.

Jika dalam hati sudah muncul keraguan, takut hubungan tidak akan bertahan, khawatir pasangan bukan orang yang tepat, maka penting untuk berani berhenti sejenak. Tidak semua langkah harus diteruskan hanya karena sudah berjalan. Kadang, berhenti adalah bentuk keberanian terbesar untuk menyelamatkan diri sendiri.

Pernikahan bukan sesuatu yang layak dimulai dengan keraguan, apalagi dengan pikiran bahwa “nanti juga bisa berpisah kalau tidak cocok.” Jika sejak awal sudah ada niat untuk keluar, maka perlu dipertanyakan kembali, untuk apa masuk ke dalamnya.

Dan bagi perempuan yang terlibat dengan laki-laki yang sudah beristri, ini adalah ruang yang sangat rawan luka. Sejak awal, kita tahu ada perempuan lain yang sudah memiliki tempat sebagai istri. Ketika tetap memilih masuk ke dalam hubungan tersebut, maka yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan pribadi, tetapi juga kehidupan orang lain. Pada akhirnya, sering kali yang terjadi adalah kehancuran, entah itu keluarga yang sudah ada, atau diri sendiri yang harus menanggung luka.

Pesan moral yang bisa saya ambil, dan mungkin bisa kita renungkan bersama, adalah bahwa perempuan harus lebih kuat dalam menjaga dirinya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan keputusan hidup. Kita tidak bisa selalu mengontrol orang lain, tetapi kita bisa belajar mengontrol batasan yang kita buat untuk diri sendiri.

Cinta saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan tanggung jawab. Janji saja tidak cukup jika tidak dibuktikan dengan tindakan. Dan harapan saja tidak cukup jika tidak dibangun di atas kenyataan yang jelas.

Perempuan berhak mendapatkan hubungan yang sehat, jelas, dan penuh tanggung jawab. Bukan hubungan yang membuatnya harus terus berkorban sendirian.

Tulisan ini bukan untuk menyederhanakan persoalan yang kompleks, juga bukan untuk menghakimi siapa pun. Ini hanya suara hati, yang mungkin mewakili banyak perempuan di luar sana, yang ingin mengajak kita semua untuk lebih berhati-hati dalam melangkah, lebih menghargai diri sendiri, dan tidak mudah menyerahkan masa depan pada janji yang belum tentu ditepati.

Jika ada yang bisa dipetik, semoga menjadi bahan renungan. Jika tidak, tak apa, abaikan saja

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Avatar photo badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Putusan MK Jadi Alarm bagi Parpol: Kaderisasi Perempuan Harus Serius

28 May 2026 - 08:04 WIB

Putusan MK Jadi Alarm bagi Parpol: Kaderisasi Perempuan Harus Serius

Pondok, Wali, dan Cerita yang Terlalu Sering Terulang

5 May 2026 - 01:39 WIB

Pondok, Wali, dan Cerita yang Terlalu Sering Terulang

Tips Menjaga Kesehatan Reproduksi Wanita

22 April 2026 - 08:40 WIB

Tips Menjaga Kesehatan Reproduksi Wanita

Pelecehan Seksual di Grup Chat, 16 Mahasiswa IPB Dijatuhi Sanksi

22 April 2026 - 08:28 WIB

Pelecehan Seksual di Grup Chat, 16 Mahasiswa IPB Dijatuhi Sanksi

Profil Li Claudia Chandra: Dari Dunia Usaha ke Panggung Politik, Perempuan yang Menembus Batas Kekuasaan

22 April 2026 - 07:46 WIB

Profil Li Claudia Chandra: Dari Dunia Usaha ke Panggung Politik, Perempuan yang Menembus Batas Kekuasaan

Hari Kartini dan RUU PPRT: Kado yang Datangnya Telat

21 April 2026 - 03:11 WIB

Hari Kartini dan RUU PPRT: Kado yang Datangnya Telat
Trending di Editor's Pick