Saya baru menyadari, Matahari Department Store, tempat yang dulu, sebagai anak kelas menengah, rutin saya kunjungi jelang Lebaran, kini sebagian gerainya telah tutup.
Kemarin, tanpa niat berbelanja banyak, saya singgah ke salah satu gerai yang masih beroperasi. Kunjungan itu awalnya terasa biasa saja. Dengan kondisi ekonomi saat ini, pola konsumsi masyarakat menengah cenderung lebih selektif. Prioritas menjadi pertimbangan utama. Saya hanya ingin membeli kebutuhan harian.
Namun perhatian saya tertuju pada sosok di meja kasir: Perempuan senior. Dari percakapan singkat kami, saya tahu ia telah berusia di atas 50 tahun dan bekerja di toko tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Perjumpaan sederhana itu justru bikin saya merenung panjang. Di tengah penyusutan ruang kerja dan bias usia (ageisme) yang kian terasa, keberadaan pekerja senior, terutama perempuan, kian jarang ditemui. Pasar kerja sering kali menempatkan usia sebagai filter utama, bahkan sejak tahap rekrutmen.
Posisi kasir kerap dianggap sebagai pekerjaan sederhana. Padahal di lapangan, tugasnya jauh lebih kompleks. Kasir menjadi titik krusial interaksi dengan pelanggan. Ia mengelola antrean, memastikan akurasi transaksi, menangani gangguan sistem pembayaran, hingga menjawab pertanyaan soal promo. Kesalahan kecil saja dapat berujung komplain atau konflik, yang hari ini mudah sekali berujung viral.
Dalam konteks tersebut, pengalaman kerja panjang menjadi kompetensi tersendiri. Stabilitas emosi, kecepatan mengambil keputusan, serta komunikasi yang efektif sering kali terbentuk dari jam terbang bertahun-tahun.
Kualitas itu saya lihat langsung. Kasir senior tersebut bekerja dengan tenang dan teliti. Ia memeriksa barang tanpa tergesa, menjelaskan detail transaksi dengan lancar, serta menunjukkan penguasaan situasi yang matang.
Ketika saya bertanya soal masa kerjanya, ia menjawab, “Sudah cukup lama, sejak saya masih gadis dan belum menikah. Puluhan tahun lalu.”
Jawaban itu disampaikan sebagai informasi biasa, tanpa upaya menarik empati. Seolah mengingatkan kapasitas kerja tidak serta-merta pudar bersama usia.
Bias Usia yang Dinormalisasi
Sayangnya, ruang kerja yang adil tidak selalu tersedia. Ageisme di pasar tenaga kerja Indonesia hadir dalam bentuk yang sangat konkret: Batas usia maksimal pada lowongan kerja.
Sejumlah kajian menunjukkan praktik pembatasan usia kerap diterapkan bahkan pada jenis pekerjaan yang tidak menuntut batasan fisik tertentu. Dalam banyak kasus, batas usia maksimal berada di kisaran pertengahan 20-an.
Pembatasan semacam ini jarang dipersoalkan secara serius. Lambat laun ia dinormalisasi, meski dampaknya nyata bagi kelompok usia tertentu.
Di sektor retail, bias usia sering berlapis. Selain asumsi soal produktivitas dan fleksibilitas, pekerja perempuan kerap dibebani ekspektasi penampilan dan keramahan. Seiring bertambahnya usia, perempuan lebih cepat dianggap “tidak sesuai citra pelayanan”, meski kompetensi mereka tetap relevan.
Karena itu, perjumpaan saya dengan kasir senior tersebut terasa signifikan. Ia menjalankan fungsi layanan dengan akurasi dan kapabilitas yang tidak kalah dari pekerja yang lebih muda.
Tekanan Industri dan Nilai Pengalaman
Refleksi ini juga tidak terlepas dari kondisi industri retail konvensional. Department store menghadapi tekanan besar akibat perubahan pola belanja, digitalisasi, serta pengetatan belanja rumah tangga.
Indikasi tekanan terlihat dari kinerja sejumlah emiten retail besar. Pendapatan bersih yang menurun menunjukkan lanskap bisnis yang tidak mudah.
Dalam situasi industri yang menekan, kompetensi pekerja berpengalaman justru menjadi aset penting. Stabilitas layanan, akurasi transaksi, serta kemampuan menangani situasi tak terduga memiliki nilai strategis dalam menjaga pengalaman pelanggan.
Mempertahankan pekerja senior dalam kerangka ini bukan semata keputusan emosional, melainkan rasionalitas bisnis. Pengalaman panjang sering kali berkorelasi dengan kemampuan membaca situasi yang tidak selalu tercantum dalam SOP.
Selain tekanan digitalisasi, sektor retail juga menghadapi dinamika kompetisi baru. Ekspansi format retail modern dengan dukungan modal besar menciptakan pergeseran ekosistem yang signifikan.
Pemain bermodal kuat cenderung lebih agresif dalam ekspansi lokasi, promosi, hingga sistem distribusi. Dampaknya dirasakan langsung oleh format retail konvensional yang telah lebih dulu tertekan. Dan di tengah tekanan tersebut, stabilitas operasional menjadi semakin krusial. Kesalahan kecil dalam layanan dapat berdampak langsung pada loyalitas pelanggan.
Pada akhirnya, perjumpaan singkat itu mengingatkan saya. Bahwa produktivitas tidak semata menyoal usia. Yang sering kali menjadi penghalang justru kesempatan yang menyempit akibat stereotip.
Ageisme pun bukan hanya menyingkirkan mereka yang dianggap terlalu tua. Ia juga mencurigai mereka yang dianggap terlalu muda. Kita kerap lupa kapabilitas tidak lahir dari angka umur, melainkan dari proses belajar, pengalaman, dan integritas yang dibangun sepanjang hidup.
Barangkali dunia kerja akan terasa lebih adil ketika usia berhenti menjadi parameter utama, dan kapabilitas individu benar-benar dilihat secara objektif.









