Saya lahir dari masa di mana diam jauh lebih lantang daripada kata-kata. Di mana anak laki-laki belajar banyak hal bukan dari ceramah, bukan dari buku motivasi, bukan dari video-video tentang maskulinitas modern—tetapi dari tatapan ayah, dari gesekan tanah, dari luka yang dibiarkan sembuh sendiri.
Waktu kecil, kalau habis berkelahi atau habis dihukum guru, kami pulang dengan langkah pelan dan kepala menunduk. Bukan karena malu, tapi karena kami tahu: rasa sakit bukan sesuatu yang perlu diumumkan. Lebam di wajah bukan alasan meminta belas kasihan. Luka di lutut bukan undangan untuk dimanjakan. Itu hanya bagian dari hidup, bagian dari tumbuh menjadi laki-laki.
Kalau pun ada yang bertanya di rumah dan luka itu ketahuan, kebohongan-kebohongan kecil keluar begitu saja: “Kejedot pintu.” “Kesenggol meja.” “Tergelincir.” Kata-kata itu bukan karena takut, tapi karena kami mengerti: pengakuan tidak selalu membawa pertolongan—kadang justru membawa hukuman tambahan. Kami belajar menyimpan rasa sakit, menguburnya jauh di dalam dada, sampai akhirnya kami sendiri lupa bahwa rasa itu pernah ada.
Kami dibesarkan untuk kuat—atau minimal, tampak kuat.
Kami dibesarkan sebagai anak laki-laki yang diberi peran bahkan sebelum kami tahu arti kata “peran” itu sendiri. Kami diajari menjemput kakak perempuan pulang sekolah, meski jaraknya jauh dan hujan deras. Kami diajari berdiri di depan pintu kalau ada suara keras di malam hari. Kami diajari bahwa tubuh kami bukan hanya milik kami—tapi tameng bagi orang yang kami cintai.
Kami tidak diajari cara mengungkapkan cinta. Kami tidak diajari bagaimana mengucap “aku sedih,” “aku takut,” atau “aku butuh seseorang.” Tidak ada ruang untuk air mata, tidak ada ruang untuk rapuh. Yang ada hanya kata-kata sederhana yang menjadi fondasi cara berpikir kami:
Jaga harga dirimu. Jaga martabatmu. Jangan pernah biarkan orang lain meremehkanmu.
Dan entah bagaimana, kalimat itu menjadi semacam sumpah yang tidak pernah kami ucapkan, tetapi selalu kami jalankan.
Dulu, ketika melihat perempuan, kami tidak terbiasa dengan diskusi panjang. Bukan karena angkuh—tapi karena kami tumbuh dengan pemahaman bahwa laki-laki berbicara ketika perlu, dan diam ketika kata-kata hanya akan menjadi bara yang membakar hubungan. Kalau setuju, kami bilang iya. Kalau tidak, kami melarang—kadang dengan nada tenang, kadang dengan sedikit tegas, namun selalu dengan keyakinan bahwa tanggung jawab melahirkan hak untuk didengar.
Mungkin itu terdengar kuno bagi orang sekarang. Mungkin itu dianggap kekuasaan, patriarki, atau sikap yang tidak setara. Tapi dulu, itu bukan tentang menguasai—itu tentang memikul. Tentang menjadi tempat bersandar ketika dunia terlalu keras. Tentang mengatakan “aku ada” bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.
Lalu waktu berjalan. Zaman berubah. Dunia mulai menyukai tawa yang dibuat-buat. Kamera menjadi saksi palsu hubungan. Media sosial menciptakan panggung di mana martabat bisa dijual murah demi komentar lucu dan angka penonton.
Dan entah sejak kapan saya mulai melihat laki-laki dijadikan bahan candaan oleh pasangannya sendiri, direkam saat dimarahi, disuruh bergaya seperti badut, diperintah berjoget mengikuti musik yang memalukan, diperlakukan seperti maskot rumah tangga. Lebih menyedihkan lagi—banyak dari mereka melakukannya dengan senyum lebar, bangga, seolah kehilangan harga diri adalah hal normal atas nama cinta dan konten.
Saya menonton layar itu sambil bertanya dalam hati—bukan dengan marah, tapi dengan getir:
Sejak kapan jadi laki-laki berarti menjadi hiburan?
Sejak kapan menjadi pasangan berarti menghapus martabat?
Sejak kapan kebahagiaan harus ditukar dengan hilangnya harga diri?
Saya tidak marah kepada mereka. Saya hanya… tidak mengerti. Mungkin dunia memang berubah dan saya tidak ikut di dalam arusnya. Mungkin saya ketinggalan cara berpikir modern. Tapi ada sesuatu dalam diri saya yang menolak berkompromi dengan hal itu.
Saya masih percaya bahwa laki-laki boleh lembut, tapi tidak kehilangan wibawa.
Boleh cinta, tapi tidak kehilangan prinsip.
Boleh mengalah, tapi tidak kehilangan diri.
Karena bagi saya, ada garis tipis yang membedakan bekerja sama dengan menyerah. Ada perbedaan antara berbagi tawa dan mempermalukan diri sendiri. Ada hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan hanya karena kamera menyala.
Dan mungkin dunia akan mengatakan saya terlalu kaku, terlalu keras, terlalu tradisional. Tapi kalau harus memilih antara menjadi lucu untuk dunia atau menjadi terhormat untuk diri sendiri—saya tahu saya akan memilih yang kedua.
Karena pada akhirnya, ketika lampu kamera mati, notifikasi berhenti, dan tawa penonton menghilang, laki-laki hanya memiliki satu hal yang benar-benar tersisa:
Dirinya sendiri.
Dan saya tidak pernah mau kehilangan itu.
Saya tidak tahu bagaimana orang memandang kalimat ini, tapi saya tahu satu hal:
Seberapa pun berubahnya dunia, seberapa kerasnya arus zaman mendorong, ada sesuatu dalam diri saya yang tetap teguh, tetap bertahan, tetap kukuh.
Bahwa laki-laki—bagi saya—tetaplah harus menjadi laki-laki.
Dan semua yang tidak mencerminkan itu











