Hari Kartini datang lagi. Seperti biasa, ia disambut dengan linimasa yang rapi. Foto kebaya bertebaran, kutipan bijak dipajang, ucapan selamat diproduksi massal. Semuanya terlihat indah, tertata, dan terasa hangat di permukaan. Tapi di balik itu, ada satu hal yang jarang disentuh. Kita terlalu sibuk merayakan bentuk, sampai lupa bertanya apakah isi dari perjuangan itu masih benar benar hidup.
Nama R.A. Kartini sering disebut dengan penuh hormat. Tapi hormat yang kita berikan kadang terasa seperti formalitas. Kita mengenalnya sebagai simbol, bukan sebagai kegelisahan. Padahal Kartini bukan sekadar tokoh sejarah yang cocok dijadikan tema lomba atau dekorasi acara. Ia adalah suara yang dulu dianggap terlalu berani. Ia menulis di saat perempuan bahkan tidak dianggap perlu berpikir. Ia mempertanyakan hal hal yang pada zamannya bisa dianggap melawan tatanan.
Hari ini kita hidup di zaman yang jauh lebih bebas. Perempuan bisa sekolah tinggi, bekerja, berbicara di ruang publik, bahkan memimpin. Tapi kebebasan itu tidak selalu berarti kesetaraan benar benar sudah tercapai. Di banyak tempat, perempuan masih harus bekerja dua kali lebih keras untuk diakui setara. Masih ada yang suaranya dianggap kurang penting. Masih ada yang dipaksa memilih antara karier dan kehidupan pribadi, seolah dua hal itu tidak boleh berjalan bersama.
Yang lebih mengganggu adalah cara kita merayakan Kartini sering terasa seperti upaya membuat segalanya terlihat baik baik saja. Kita memilih bagian yang paling nyaman dari perjuangannya. Kita angkat sisi inspiratifnya, tapi menghindari sisi perlawanannya. Kita ulang ulang kutipan terkenalnya, tapi jarang benar benar memahami konteks di balik kata kata itu.
Kalimat Habis Gelap Terbitlah Terang sering dijadikan slogan optimisme. Padahal di dalamnya ada cerita tentang gelap yang panjang, tentang tekanan, tentang batasan yang nyata. Terang yang dimaksud bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ia lahir dari keberanian untuk melawan, dari ketidakpuasan terhadap keadaan, dari keinginan untuk mengubah sesuatu yang dianggap tidak bisa diubah.
Sekarang pertanyaannya sederhana tapi tidak nyaman. Apakah kita masih punya keberanian seperti itu. Atau kita justru lebih suka berada di zona aman, merayakan tanpa harus mempertanyakan. Mengingat tanpa harus melanjutkan. Mengagumi tanpa harus meniru keberanian yang dulu menjadi inti dari perjuangan itu.
Kartini dulu tidak punya panggung besar. Ia hanya punya pikiran yang gelisah dan keberanian untuk menuliskannya. Kita hari ini punya panggung yang jauh lebih luas. Media sosial, ruang diskusi, akses informasi. Tapi sering kali panggung itu hanya dipakai untuk hal hal yang tidak berisiko. Kita lebih nyaman terlihat peduli daripada benar benar mengambil posisi.
Mungkin masalahnya bukan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita tahu. Tapi melakukannya berarti harus siap berbeda pendapat, siap tidak disukai, siap keluar dari kenyamanan. Dan itu tidak selalu mudah.
Hari Kartini seharusnya bukan tentang seberapa bagus kita mengenakan kebaya atau seberapa banyak kita membagikan kutipan. Ia seharusnya jadi pengingat bahwa perubahan selalu dimulai dari ketidaknyamanan. Dari keberanian untuk bertanya kenapa sesuatu harus seperti ini. Dari kemauan untuk mengatakan bahwa sesuatu tidak adil.
Kalau Kartini masih hidup hari ini, mungkin ia tidak akan terlalu peduli dengan perayaan yang kita buat. Ia mungkin lebih tertarik melihat apa yang benar benar kita lakukan. Apakah kita hanya mengulang kata katanya, atau benar benar melanjutkan pikirannya.
Karena pada akhirnya, Kartini bukan cerita tentang masa lalu. Ia adalah cermin untuk masa sekarang. Dan cermin itu tidak selalu menampilkan sesuatu yang ingin kita lihat






