JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang kurang mendukung.
Meski demikian, risiko pembalikan arah USD/IDR mulai meningkat apabila muncul katalis positif dari eksternal.
Dalam laporan terbaru MUFG Bank tertanggal 26 Mei 2026, Senior Currency Analys, Lloyd Chan mengungkapkan bahwa dolar AS terhadap rupiah masih ditopang oleh tingginya imbal hasil obligasi AS, harga minyak yang tetap elevated, serta menyempitnya selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat yang kini berada di level historis rendah.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah dinilai semakin besar seiring memburuknya defisit transaksi berjalan yang mencapai 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I-2026.
Risiko fiskal akibat subsidi energi yang meningkat serta perlambatan momentum pertumbuhan ekonomi juga turut memperlemah prospek rupiah.
MUFG mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 lebih banyak ditopang oleh lonjakan konsumsi pemerintah yang menyumbang 1,3 poin persentase terhadap pertumbuhan, naik dibanding kontribusi 0,4 poin persentase pada kuartal IV-2025.
Tekanan inflasi juga diperkirakan meningkat akibat kenaikan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, serta mulai tertutupnya output gap.
Meski subsidi energi dinilai mampu menahan sebagian dampak kenaikan harga, MUFG memperkirakan inflasi tahunan Indonesia rata-rata mencapai 3% pada 2026, naik dari 1,9% pada 2025.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di level 5,3% pada tahun ini, sedikit lebih tinggi dibanding realisasi 5,1% tahun lalu.
Bank Indonesia dinilai telah memberikan dukungan terhadap rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei 2026, serta kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan ke level 6,8%.
Namun, kekhawatiran investor terhadap potensi intervensi pemerintah dalam tata kelola ekspor komoditas disebut turut membebani sentimen pasar.
Ia bahkan menilai masih terdapat peluang tambahan kenaikan suku bunga BI masing-masing 25 basis poin sebanyak dua kali lagi pada tahun ini guna menjaga stabilitas rupiah.
Meski tekanan masih dominan, MUFG melihat potensi pembalikan arah USD/IDR mulai terbuka.
Posisi pasar yang dinilai terlalu jenuh beli (overbought) serta valuasi rupiah yang sudah sangat murah secara real effective exchange rate, mendekati level saat taper tantrum 2013, membuat risiko koreksi dolar AS terhadap rupiah semakin besar.
Menurut dia, salah satu katalis utama yang dapat memicu penguatan rupiah adalah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran






