Menu

Mode Gelap

Editor's Pick · 22 Apr 2026 05:21 WIB ·

Negara Ini Kayaknya Lagi Hobi Ngitung Recehan Kita

Negara Ini Kayaknya Lagi Hobi Ngitung Recehan Kita Perbesar

Di negara ini, jadi rakyat kecil itu rasanya kayak lagi ikut program loyalty, bedanya, tiap transaksi bukan dapat poin, tapi dipotong pajak.

Beli sabun kena pajak.
Beli kopi sachet kena pajak.
Isi bensin kena pajak.
Punya motor kena pajak.
Punya rumah kena pajak.

Kalau bisa, mungkin suatu hari nanti napas juga kena pajak.
Tarifnya tergantung seberapa dalam kamu menghela.

Masalahnya bukan soal pajak itu sendiri. Semua orang waras tahu negara butuh uang. Bahkan sejak zaman kerajaan, pajak sudah jadi alat kekuasaan buat bertahan hidup.
Masalahnya: negara ini terlalu rajin narik, tapi terlalu santai ngasih balik.

Pajak Itu Dipungut, Tapi Manfaatnya Kayak Undian

Di negara-negara yang katanya “maju”, orang bayar pajak mahal tapi dapat fasilitas yang jelas: transportasi rapi, layanan publik jalan, hidup terasa lebih manusiawi.

Di sini?
Kita bayar pajak, lalu dikasih jalan berlubang sebagai bentuk kejujuran pemerintah bahwa hidup memang tidak mulus.

Bahkan dalam tulisan gaya Mojok, ada yang bilang orang sebenarnya bukan malas bayar pajak—mereka cuma bingung uangnya ke mana.

Logikanya sederhana:
Kalau iuran RT jelas buat bersihin selokan, orang bayar.
Kalau pajak negara hasilnya nggak kelihatan, ya wajar kalau rakyat mulai mikir: ini iuran atau pungutan liar versi resmi?

Rakyat Kecil Jadi Target Empuk

Yang bikin makin absurd, pajak di negeri ini kadang terasa seperti prinsip:
“Yang gampang ditarik, ya itu yang ditarik.”

Buruh dipotong gaji.
UMKM dipajaki.
Kendaraan rakyat dikenai pajak progresif—padahal dua motor bukan tanda kaya, tapi tanda satu keluarga harus kerja semua.

Sementara yang “besar-besar”, yang main di level korporasi dan elite, sering terasa seperti punya pintu belakang.

Akhirnya muncul perasaan klasik:
pajak itu adil di teori, tapi miring di praktik.

Negara Terlalu Kreatif Cari Pajak, Tapi Kurang Kreatif Ngasih Solusi

Contoh paling gampang: kendaraan.

Rakyat dipaksa beli kendaraan karena transportasi umum belum memadai.
Sudah beli mahal (kena pajak), tiap tahun bayar lagi.
Lalu disuruh sabar di jalan macet.

Lengkap sudah:
dipaksa beli, dipajaki, lalu disuruh menikmati kemacetan.

Ini bukan kebijakan. Ini siklus penderitaan berulang.

Yang Bikin Orang Kesal Itu Bukan Nominal, Tapi Rasa Tidak Adil

Lucunya, orang Indonesia itu dermawan. Bahkan masuk negara paling dermawan di dunia.

Artinya?
Masalahnya bukan pelit.

Masalahnya:
orang lebih rela memberi daripada dipaksa memberi tanpa tahu hasilnya.

Penutup

Negara ini bukan kekurangan pajak.
Negara ini kekurangan rasa malu.

Karena yang bikin rakyat kesal bukan dipotong,
tapi dipotong terus tanpa pernah merasa diperhatikan.

Kalau pajak itu katanya gotong royong,
ya minimal rakyat jangan cuma jadi yang gotong
negara juga harus kelihatan ikut royong.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

Avatar photo badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Background Check Calon Karyawan: Mengapa Verifikasi Identitas Sebelum Rekrutmen Semakin Penting?

28 May 2026 - 07:59 WIB

Background Check Calon Karyawan: Mengapa Verifikasi Identitas Sebelum Rekrutmen Semakin Penting?

Pompa Air untuk Industri dan Bengkel: Panduan Memilih Sebelum Salah Beli

28 May 2026 - 06:33 WIB

Memahami Makna dan Sejarah Idul Adha Lebih Dalam

28 May 2026 - 06:26 WIB

Mogok Kerja Buruh Samsung Jadi Sorotan, Ekonomi Korea Selatan Terancam

7 May 2026 - 01:31 WIB

Mogok Kerja Buruh Samsung Jadi Sorotan, Ekonomi Korea Selatan Terancam

Reformasi Polri Masuk Babak Baru, Presiden Terima Laporan 3.000 Halaman

6 May 2026 - 06:09 WIB

Reformasi Polri Masuk Babak Baru, Presiden Terima Laporan 3.000 Halaman

Pondok, Wali, dan Cerita yang Terlalu Sering Terulang

5 May 2026 - 01:39 WIB

Pondok, Wali, dan Cerita yang Terlalu Sering Terulang
Trending di Editor's Pick